HUBUNGAN MAHRAM
KARENA PENYUSUAN
(Studi Hadis)
Oleh: Moh. Ghazali Rahman
A. Pendahuluan
Selain
Alqur’an, Nabi Saw. meninggalkan warisan yang sangat berharga yaitu hadis. Kedua warisan inilah yang senantiasa menjadi sumber rujukan
utama bagi siapa saja dalam menyelesaikan segudang problematika kehidupan.
Kompleksitas kehidupan manusia pada akhirnya juga menuntut pembacaan dan pengkajian
ulang terhadap sumber-sumber aplikatif yang telah diapresiasikan oleh Nabi di
zamannya untuk dikontekstualisasikan agar tetap eksis di sepanjang zaman.
Begitu pula munculnya tantangan modern yang cenderung mereduksi otoritas
kenabian merupakan tantangan tersendiri bagi umat Islam untuk merekonsruksi
kembali fondasi-fondasi agama yang sekian lama telah menjadi hukum formal dalam
bermu’amalah.
Sejarah
berulang dalam versi yang berbeda, begitu banyak hal yang terkait dengan
persoalan kehidupan perlu disikapi secara normatif dengan bersandar pada nilai
dan semangat wahyu dan kenabian. Sebab, kehendak Ilahiah yang termuat dalam
teks-teks religius tentu memuat hikmah kemanusiaan yang terkadang ditemukan
belakangan. Seperti halnya pembahasan pada makalah ini, ternyata masa kenabian
penuh dengan respon-respon sosial yang hendak menata sedikit demi sedikit
relasi yang ideal antara sesama manusia dengan aturan-aturan yang mungkin
sepintas dinilai sepele dan diragukan ke-hujjah-annya.
Oleh
karena itu, menampilkan kapasitas sebuah hadis dalam kualifikasi shahih,
hasan dan dha’if tidak bisa lain kecuali dengan melakukan verifikasi
hadis melalui kritik sanad dan matan. Proses ini merupakan upaya
untuk memastikan -paling tidak, menduga secara kuat- bahwa hadis tersebut
benar-benar berasal dari Nabi, dan secara otentik telah dapat menjadi hujjah
bagi penetapan hukum-hukum sosial. Penelitian hadis dalam kajian sanad dan matan merupakan
studi kesejarahan (historis) atas semangat kenabian dalam peran dan posisi
sentralnya yang diutus sebagai “bayan”, dalam arti memiliki otoritas dan
hak prerogatif dalam menjelaskan makna dan kehendak Tuhan yang hendak
diejawantahkan dalam elaborasi dinamis antara peradaban manusia dan peradaban
Tuhan sendiri.
Asumsi ini mencoba untuk menegaskan
kapasitas kenabian sebagai sosok par excellence yang tidak mudah bagi
seorang muslim untuk memahami signifikansi nilai spiritual kenabian yang tumbuh
dalam prototipe kehidupan religiusnya sebagaimana Alquran menjelaskan dengan
statemen:
Seperti itulah idealnya seorang
Nabi, namun tetap juga ada sisi lain yang menjadi pertimbangan bahwasanya Nabi
adalah manusia biasa (seperti kita juga) yang tentu tidak lepas dari berbagai
dominasi sifat kemanusiaan yang berimplikasi kepada sifat-sifat temporal dan
kontekstual sunnah yang beradaptasi secara logis dengan situasi dan kondisi
zamannya.
Salah satu bentuk peran kenabian ini misalnya tampak
ketika Nabi menyikapi berbagai kasus-kasus yang terkait dengan kompleksitas
relasi antara sesama muslim baik sejenis maupun berbeda jenis secara biologis.
Terkait dengan itu, makalah ini mencoba menguraikan salah satu tema relasi
tersebut dalam spesifikasi pembahasan yang mengetengahkan kasus Aisyah (isteri
Nabi) yang terkait dengan kualitas dan kuantitas penyusuan yang berdampak pada
hukum mahram. Uraian ini berupaya mengkaji hal tersebut secara metodologis
dalam uji kualifikasi, validitas sanad dan matan hadis untuk dilegalisasi
sebagai hujjah yang otentik (sahih) dalam menetapkan suatu hukum.
B. Pembahasan
I.
Matan Hadis
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَشْعَثَ بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ عَنْ
أَبِيهِ عَنْ مَسْرُوقٍ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ
عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدِي رَجُلٌ قَالَ يَا
عَائِشَةُ مَنْ هَذَا قُلْتُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ قَالَ يَا عَائِشَةُ
انْظُرْنَ مَنْ إِخْوَانُكُنَّ فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنْ الْمَجَاعَةِ .[2]
Terjemahannya:
Kami diberitakan oleh Muhammad bin Katsir, kami
dikabarkan oleh Sufyan, dari Asy’ats bin Abi al-Sya’tsa’i, dari bapaknya, dari
Masruq, bahwa Aisyah ra. berkata: “Nabi Saw. mendatangiku ketika pada saat itu
aku sedang bersama seorang laki-laki lalu Nabi bertanya: (“Ya Aisyah, siapa
dia?”), aku berkata: “Saudara sesusuanku”. Nabi bersabda selanjutnya: (“Ya
Aisyah, perhatikanlah siapakah saudara-saudaramu karena sesusuan, sebab -yang
diperhitungkan- dari sesusuan adalah karena rasa lapar”).
II.
Takhrij Hadis
Dalam upaya penelusuran hadis tentang tolak ukur
(kualitas dan kuantitas) penyusuan ini, penulis menggunakan metode takhrij secara
tematik serta menurut lafadz-lafadz yang bersinonim dengan lafaz yang terdapat
dalam matan hadis. Kata kunci yang menjadi pijakan penulis dalam penelusuran
beberapa riwayat berdasarkan metode tersebut antara lain: المجاعة [3], الرضاع[4] , المصة [5], dan lafadz الإملاجة
. Untuk itu penulis merujuk pada kitab standar penelusuran hadis, yakni Al-Mu’jam
al-Mufahras li Alfadz al-Hadis al-Nabawi yang disusun oleh Arnold John
Wensinck serta merujuk pula pada CD Digital “Maushu’ah al-Hadis al-Syarif”.
Berdasarkan kedua alat bantu tersebut, maka terdapat
beberapa hadis yang terkait dengan topik pembahasan ini dengan rincian sebagai
berikut:
- Sahih Bukhari memuat 2 riwayat pada kitab Syahadat dan kitab Nikah.
- Shahih Muslim memuat 7 riwayat pada kitab al-Radha’
3. Turmudzi memuat
2 riwayat pada kitab al-Radha’
4. Al-Nasa’i memuat 6 riwayat pada kitab al-Nikah
5
Abu Daud memuat 5 riwayat pada kitab al-Nikah
6
Ibnu Majah memuat 5 riwayat pada kitab al-Nikah
7
Ahmad memuat 17 riwayat
8
Al-Darimi memuat 4 riwayat
9
Malik memuat 6 riwayat
1- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ
عَنْ أَشْعَثَ بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ مَسْرُوقٍ أَنَّ
عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدِي رَجُلٌ قَالَ يَا عَائِشَةُ مَنْ هَذَا
قُلْتُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ قَالَ يَا عَائِشَةُ انْظُرْنَ مَنْ إِخْوَانُكُنَّ
فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنْ الْمَجَاعَةِ تَابَعَهُ ابْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ
سُفْيَانَ. [6]
2- حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ
حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْأَشْعَثِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا رَجُلٌ فَكَأَنَّهُ تَغَيَّرَ وَجْهُهُ كَأَنَّهُ
كَرِهَ ذَلِكَ فَقَالَتْ إِنَّهُ أَخِي فَقَالَ انْظُرْنَ مَنْ
إِخْوَانُكُنَّ فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنْ الْمَجَاعَة.ِ [7]
2. Shahih Muslim pada kitab Radha’
1- حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ حَدَّثَنَا أَبُو
الْأَحْوَصِ عَنْ أَشْعَثَ بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ مَسْرُوقٍ
قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَعِنْدِي رَجُلٌ قَاعِدٌ فَاشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ وَرَأَيْتُ
الْغَضَبَ فِي وَجْهِهِ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ أَخِي مِنْ
الرَّضَاعَةِ قَالَتْ فَقَالَ انْظُرْنَ إِخْوَتَكُنَّ مِنْ
الرَّضَاعَةِ فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنْ الْمَجَاعَةِ و حَدَّثَنَاه
مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
جَعْفَرٍ ح و حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَا
جَمِيعًا حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ ح و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ
الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ جَمِيعًا عَنْ سُفْيَانَ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ
حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْجُعْفِيُّ عَنْ زَائِدَةَ كُلُّهُمْ عَنْ
أَشْعَثَ بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ بِإِسْنَادِ أَبِي الْأَحْوَصِ كَمَعْنَى
حَدِيثِهِ غَيْرَ أَنَّهُمْ قَالُوا مِنْ الْمَجَاعَةِ. [8]
2- حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ
حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ ح و حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ
سَعِيدٍ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ كِلَاهُمَا عَنْ أَيُّوبَ عَنْ
ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ
قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ
سُوَيْدٌ وَزُهَيْرٌ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
لَا تُحَرِّمُ الْمَصَّةُ وَالْمَصَّتَانِ [9]
3- حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ عَنْ قَتَادَةَ
عَنْ أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ
حَدَّثَتْ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا
تُحَرِّمُ الرَّضْعَةُ أَوْ الرَّضْعَتَانِ أَوْ الْمَصَّةُ أَوْ الْمَصَّتَانِ
و حَدَّثَنَاه أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ
جَمِيعًا عَنْ عَبْدَةَ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ ابْنِ أَبِي عَرُوبَةَ بِهَذَا
الْإِسْنَادِ أَمَّا إِسْحَقُ فَقَالَ كَرِوَايَةِ ابْنِ بِشْرٍ أَوْ
الرَّضْعَتَانِ أَوْ الْمَصَّتَانِ وَأَمَّا ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ فَقَالَ
وَالرَّضْعَتَانِ وَالْمَصَّتَانِ. [10]
4- حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ
حَدَّثَنَا حَبَّانُ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَبِي
الْخَلِيلِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ سَأَلَ
رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتُحَرِّمُ الْمَصَّةُ
فَقَالَ لا [11]
5- (2634) حَدَّثَنَا
يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
أَبِي بَكْرٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ فِيمَا
أُنْزِلَ مِنْ الْقُرْآنِ عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ ثُمَّ
نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُنَّ فِيمَا يُقْرَأُ مِنْ الْقُرْآنِ
6- (2629). حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَعَمْرٌو
النَّاقِدُ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ كُلُّهُمْ عَنْ الْمُعْتَمِرِ
وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى أَخْبَرَنَا الْمُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ أَيُّوبَ
يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أُمِّ
الْفَضْلِ قَالَتْ دَخَلَ أَعْرَابِيٌّ عَلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي بَيْتِي فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنِّي
كَانَتْ لِي امْرَأَةٌ فَتَزَوَّجْتُ عَلَيْهَا أُخْرَى فَزَعَمَتْ امْرَأَتِي
الْأُولَى أَنَّهَا أَرْضَعَتْ امْرَأَتِي الْحُدْثَى رَضْعَةً أَوْ رَضْعَتَيْنِ
فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا
تُحَرِّمُ الْإِمْلَاجَةُ وَالْإِمْلَاجَتَانِ قَالَ عَمْرٌو فِي رِوَايَتِهِ
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ نَوْفَلٍ
7- (2632) . وحَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا
بِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ
أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ نَوْفَلٍ عَنْ أُمِّ
الْفَضْلِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا
تُحَرِّمُ الْإِمْلَاجَةُ وَالْإِمْلَاجَتَانِ
3. Turmudzi-Al-Radha’
1- (1069) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
عَبْدِ الْأَعْلَى الصَّنْعَانِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ بْنُ
سُلَيْمَانَ قَال سَمِعْتُ أَيُّوبَ يُحَدِّثُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي
مُلَيْكَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُحَرِّمُ الْمَصَّةُ وَلَا
الْمَصَّتَانِ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ وَأَبِي هُرَيْرَةَ
وَالزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ وَابْنِ الزُّبَيْرِ وَرَوَى غَيْرُ وَاحِدٍ هَذَا
الْحَدِيثَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
الزُّبَيْرِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا
تُحَرِّمُ الْمَصَّةُ وَلَا الْمَصَّتَانِ وَرَوَى مُحَمَّدُ بْنُ دِينَارٍ عَنْ
هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ
الزُّبَيْرِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَزَادَ فِيهِ
مُحَمَّدُ بْنُ دِينَارٍ الْبَصْرِيُّ عَنْ الزُّبَيْرِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ غَيْرُ مَحْفُوظٍ وَالصَّحِيحُ عِنْدَ أَهْلِ
الْحَدِيثِ حَدِيثُ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ
عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبُو عِيسَى
حَدِيثُ عَائِشَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَسَأَلْتُ مُحَمَّدًا عَنْ هَذَا
فَقَالَ الصَّحِيحُ عَنْ ابْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ وَحَدِيثُ مُحَمَّدِ
بْنِ دِينَارٍ وَزَادَ فِيهِ عَنْ الزُّبَيْرِ وَإِنَّمَا هُوَ هِشَامُ بْنُ
عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الزُّبَيْرِ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ
أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَغَيْرِهِمْ . [12]
2- (1070)
وَقَالَتْ عَائِشَةُ أُنْزِلَ فِي الْقُرْآنِ عَشْرُ
رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ فَنُسِخَ مِنْ ذَلِكَ خَمْسٌ وَصَارَ إِلَى خَمْسِ
رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ حَدَّثَنَا بِذَلِكَ إِسْحَقُ بْنُ مُوسَى
الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا مَعْنٌ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
أَبِي بَكْرٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ بِهَذَا وَبِهَذَا كَانَتْ عَائِشَةُ
تُفْتِي وَبَعْضُ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ
قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَإِسْحَقَ و قَالَ أَحْمَدُ بِحَدِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُحَرِّمُ الْمَصَّةُ وَلَا الْمَصَّتَانِ
و قَالَ إِنْ ذَهَبَ ذَاهِبٌ إِلَى قَوْلِ عَائِشَةَ فِي خَمْسِ رَضَعَاتٍ
فَهُوَ مَذْهَبٌ قَوِيٌّ وَجَبُنَ عَنْهُ أَنْ يَقُولَ فِيهِ شَيْئًا و قَالَ
بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ يُحَرِّمُ قَلِيلُ الرَّضَاعِ وَكَثِيرُهُ إِذَا وَصَلَ
إِلَى الْجَوْفِ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَمَالِكِ بْنِ أَنَسٍ
وَالْأَوْزَاعِيِّ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ وَوَكِيعٍ وَأَهْلِ
الْكُوفَةِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ هُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ وَيُكْنَى أَبَا مُحَمَّدٍ وَكَانَ عَبْدُ
اللَّهِ قَدْ اسْتَقْضَاهُ عَلَى الطَّائِفِ وَقَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ ابْنِ
أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ أَدْرَكْتُ ثَلَاثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
4. Al-Nasa’i -
al-Nikah
1- (3256) أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الصَّبَّاحِ
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَوَاءٍ قَالَ حَدَّثَنَا
سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ وَأَيُّوبُ عَنْ صَالِحٍ أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ نَوْفَلٍ عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ أَنَّ نَبِيَّ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ الرَّضَاعِ فَقَالَ لَا
تُحَرِّمُ الْإِمْلَاجَةُ وَلَا الْإِمْلَاجَتَانِ وَقَالَ قَتَادَةُ الْمَصَّةُ
وَالْمَصَّتَانِ . [13]
2- (3255) أَخْبَرَنِي هَارُونُ بْنُ
عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْنٌ قَالَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ وَالْحَارِثُ
بْنُ مِسْكِينٍ قِرَاءَةً عَلَيْهِ وَأَنَا أَسْمَعُ عَنْ ابْنِ الْقَاسِمِ قَالَ
حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ
عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ فِيمَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَقَالَ
الْحَارِثُ فِيمَا أُنْزِلَ مِنْ الْقُرْآنِ عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ
يُحَرِّمْنَ ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ مِمَّا يُقْرَأُ مِنْ الْقُرْآنِ
3- (3257) أَخْبَرَنَا شُعَيْبُ بْنُ
يُوسُفَ عَنْ يَحْيَى عَنْ هِشَامٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لآتُحَرِّمُ
الْمَصَّةُ وَالْمَصَّتَانِ
4- (3258) أَخْبَرَنَا زِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ قَالَ
حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا تُحَرِّمُ الْمَصَّةُ وَالْمَصَّتَانِ
5- (3272) أَخْبَرَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى
قَالَ أَنْبَأَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ وَمَالِكٌ عَنْ ابْنِ
شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ قَالَ أَبَى سَائِرُ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَدْخُلَ عَلَيْهِنَّ بِتِلْكَ الرَّضْعَةِ
أَحَدٌ مِنْ النَّاسِ يُرِيدُ رَضَاعَةَ الْكَبِيرِ وَقُلْنَ لِعَائِشَةَ
وَاللَّهِ مَا نُرَى الَّذِي أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ سَهْلَةَ بِنْتَ سُهَيْلٍ إِلَّا رُخْصَةً فِي رَضَاعَةِ سَالِمٍ
وَحْدَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ لَا
يَدْخُلُ عَلَيْنَا أَحَدٌ بِهَذِهِ الرَّضْعَةِ وَلَا يَرَانَا
6- (3260) أَخْبَرَنَا
هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ فِي حَدِيثِهِ عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ عَنْ أَشْعَثَ
بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ
دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدِي
رَجُلٌ قَاعِدٌ فَاشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ وَرَأَيْتُ الْغَضَبَ فِي وَجْهِهِ
فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ فَقَالَ انْظُرْنَ
مَا إِخْوَانُكُنَّ وَمَرَّةً أُخْرَى انْظُرْنَ مَنْ إِخْوَانُكُنَّ مِنْ
الرَّضَاعَةِ فَإِنَّ الرَّضَاعَةَ مِنْ الْمَجَاعَةِ
5. Abu
Daud-Nikah
1- (1762) حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا
شُعْبَةُ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ
أَشْعَثَ بْنِ سُلَيْمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ الْمَعْنَى
وَاحِدٌ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا
وَعِنْدَهَا رَجُلٌ قَالَ حَفْصٌ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ وَتَغَيَّرَ وَجْهُهُ
ثُمَّ اتَّفَقَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ أَخِي مِنَ الرَّضَاعَةِ
فَقَالَ انْظُرْنَ مَنْ إِخْوَانُكُنَّ فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنَ
الْمَجَاعَةِ.[14]
2-
(1764) حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا عَنْبَسَةُ حَدَّثَنِي
يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ حَدَّثَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ
زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ
أَبَا حُذَيْفَةَ بْنَ عُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ كَانَ تَبَنَّى
سَالِمًا وَأَنْكَحَهُ ابْنَةَ أَخِيهِ هِنْدَ بِنْتَ الْوَلِيدِ بْنِ عُتْبَةَ
بْنِ رَبِيعَةَ وَهُوَ مَوْلًى لِامْرَأَةٍ مِنْ الْأَنْصَارِ كَمَا تَبَنَّى
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَيْدًا وَكَانَ مَنْ تَبَنَّى
رَجُلًا فِي الْجَاهِلِيَّةِ دَعَاهُ النَّاسُ إِلَيْهِ وَوُرِّثَ مِيرَاثَهُ
حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي ذَلِكَ ادْعُوهُمْ
لِآبَائِهِمْ إِلَى قَوْلِهِ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ
فَرُدُّوا إِلَى آبَائِهِمْ فَمَنْ لَمْ يُعْلَمْ لَهُ أَبٌ كَانَ مَوْلًى وَأَخًا
فِي الدِّينِ فَجَاءَتْ سَهْلَةُ بِنْتُ سُهَيْلِ بْنِ عَمْرٍو الْقُرَشِيِّ ثُمَّ
الْعَامِرِيِّ وَهِيَ امْرَأَةُ أَبِي حُذَيْفَةَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ
إِنَّا كُنَّا نَرَى سَالِمًا وَلَدًا وَكَانَ يَأْوِي مَعِي وَمَعَ أَبِي
حُذَيْفَةَ فِي بَيْتٍ وَاحِدٍ وَيَرَانِي فُضْلًا وَقَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ فِيهِمْ مَا قَدْ عَلِمْتَ فَكَيْفَ تَرَى فِيهِ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْضِعِيهِ فَأَرْضَعَتْهُ خَمْسَ
رَضَعَاتٍ فَكَانَ بِمَنْزِلَةِ وَلَدِهَا مِنْ الرَّضَاعَةِ فَبِذَلِكَ
كَانَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَأْمُرُ بَنَاتِ أَخَوَاتِهَا
وَبَنَاتِ إِخْوَتِهَا أَنْ يُرْضِعْنَ مَنْ أَحَبَّتْ عَائِشَةُ أَنْ يَرَاهَا
وَيَدْخُلَ عَلَيْهَا وَإِنْ كَانَ
كَبِيرًا
خَمْسَ رَضَعَاتٍ ثُمَّ يَدْخُلُ عَلَيْهَا وَأَبَتْ أُمُّ سَلَمَةَ وَسَائِرُ
أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُدْخِلْنَ
عَلَيْهِنَّ بِتِلْكَ الرَّضَاعَةِ أَحَدًا مِنْ النَّاسِ حَتَّى يَرْضَعَ فِي
الْمَهْدِ وَقُلْنَ لِعَائِشَةَ وَاللَّهِ مَا نَدْرِي لَعَلَّهَا كَانَتْ
رُخْصَةً مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِسَالِمٍ دُونَ
النَّاسِ
3- (1765) حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ عَنْ عَمْرَةَ بِنْتِ
عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ فِيمَا أَنْزَلَ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ الْقُرْآنِ عَشْرُ رَضَعَاتٍ يُحَرِّمْنَ ثُمَّ
نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ فَتُوُفِّيَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُنَّ مِمَّا يُقْرَأُ مِنْ الْقُرْآنِ
4-
(1766) حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ
أَيُّوبَ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ
عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُحَرِّمُ الْمَصَّةُ وَلَا الْمَصَّتَانِ
5- (1763) حَدَّثَنَا
عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ مُطَهَّرٍ أَنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ الْمُغِيرَةِ
حَدَّثَهُمْ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنٍ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ
مَسْعُودٍ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لَا رِضَاعَ إِلَّا مَا شَدَّ الْعَظْمَ
وَأَنْبَتَ اللَّحْمَ فَقَالَ أَبُو مُوسَى لَا تَسْأَلُونَا وَهَذَا
الْحَبْرُ فِيكُمْ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْأَنْبَارِيُّ
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ أَبِي مُوسَى
الْهِلَالِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَعْنَاهُ وَقَالَ أَنْشَزَ الْعَظْمَ
6. Ibnu
Majah-Nikah
1- (1935) حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي
شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَشْعَثَ بْنِ أَبِي
الشَّعْثَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا رَجُلٌ فَقَالَ مَنْ
هَذَا قَالَتْ هَذَا أَخِي قَالَ انْظُرُوا مَنْ تُدْخِلْنَ عَلَيْكُنَّ
فَإِنَّ الرَّضَاعَةَ مِنْ الْمَجَاعَةِ . [15]
2-
(1930) حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
بِشْرٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَرُوبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي الْخَلِيلِ
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ حَدَّثَتْهُ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُحَرِّمُ
الرَّضْعَةُ وَلَا الرَّضْعَتَانِ أَوْ الْمَصَّةُ وَالْمَصَّتَانِ
3- (1931) حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ خَالِدِ بْنِ خِدَاشٍ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ أَيُّوبَ
عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُحَرِّمُ
الْمَصَّةُ وَالْمَصَّتَانِ
4- (1932) حَدَّثَنَا
عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ بْنِ عَبْدِ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا أَبِي
حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ
أَبِيهِ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ فِيمَا أَنْزَلَ
اللَّهُ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ سَقَطَ لَا يُحَرِّمُ إِلَّا عَشْرُ رَضَعَاتٍ
أَوْ خَمْسٌ مَعْلُومَاتٌ
5- (1937) حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ الْمِصْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ لَهِيعَةَ
عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ وَعُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي أَبُو
عُبَيْدَةَ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَمْعَةَ عَنْ أُمِّهِ زَيْنَبَ بِنْتِ أَبِي
سَلَمَةَ أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّ أَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّهُنَّ خَالَفْنَ عَائِشَةَ وَأَبَيْنَ أَنْ يَدْخُلَ
عَلَيْهِنَّ أَحَدٌ بِمِثْلِ رَضَاعَةِ سَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ وَقُلْنَ
وَمَا يُدْرِينَا لَعَلَّ ذَلِكَ كَانَتْ رُخْصَةً لِسَالِمٍ وَحْدَهُ
7. Ahmad
1-
(22899) حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ عَنْ أَيُّوبَ عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنِ
ابْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُحَرِّمُ الْمَصَّةُ وَالْمَصَّتَانِ. [16]
2-
(15528) قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ هِشَامٍ قَالَ أَخْبَرَنِي
أَبِي عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُحَرِّمُ مِنْ الرَّضَاعِ الْمَصَّةُ
وَالْمَصَّتَانِ
3- (15537) قَالَ
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُحَرِّمُ
الْمَصَّةُ وَالْمَصَّتَانِ
4- (23503) حَدَّثَنَا
عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ
عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا
تُحَرِّمُ الْمَصَّةُ وَلَا الْمَصَّتَانِ
5- (24628) حَدَّثَنَا
إِسْمَاعِيلُ قَالَ أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي
مُلَيْكَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُحَرِّمُ الْمَصَّةُ وَلَا
الْمَصَّتَانِ
6- (24904) حَدَّثَنَا
عُثْمَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ
عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا
تُحَرِّمُ الْمَصَّةُ وَلَا الْمَصَّتَانِ
7- (25651) حَدَّثَنَا
بَهْزٌ وَعَفَّانُ قَالَا حَدَّثَنَا هَمَّامٌ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ
أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ
بِنْتِ الْحَارِثِ سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتُحَرِّمُ
الْمَصَّةُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا وَقَالَ
عَفَّانُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ فَذَكَرَهُ
8- (24470) حَدَّثَنَا
عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ
شِهَابٍ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أَبَا
حُذَيْفَةَ تَبَنَّى سَالِمًا وَهُوَ مَوْلًى لِامْرَأَةٍ مِنْ الْأَنْصَارِ كَمَا
تَبَنَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَيْدًا وَكَانَ مَنْ
تَبَنَّى رَجُلًا فِي الْجَاهِلِيَّةِ دَعَاهُ النَّاسُ ابْنَهُ وَوَرِثَ مِنْ
مِيرَاثِهِ حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ
أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي
الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ فَرُدُّوا إِلَى آبَائِهِمْ فَمَنْ لَمْ يُعْلَمْ لَهُ
أَبٌ فَمَوْلًى وَأَخٌ فِي الدِّينِ فَجَاءَتْ سَهْلَةُ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ
اللَّهِ كُنَّا نَرَى سَالِمًا وَلَدًا يَأْوِي مَعِي وَمَعَ أَبِي حُذَيْفَةَ
وَيَرَانِي فُضُلًا وَقَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِمْ مَا قَدْ
عَلِمْتَ فَقَالَ أَرْضِعِيهِ خَمْسَ رَضَعَاتٍ فَكَانَ بِمَنْزِلَةِ
وَلَدِهِ مِنْ الرَّضَاعَةِ
9- (24983) حَدَّثَنَا
عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ
امْرَأَةَ أَبِي حُذَيْفَةَ فَأَرْضَعَتْ سَالِمًا خَمْسَ رَضَعَاتٍ
فَكَانَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا بِتِلْكَ الرَّضَاعَةِ
10- (25111) حَدَّثَنَا
يَعْقُوبُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ قَالَ حَدَّثَنِي
الزُّهْرِيُّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ أَتَتْ سَهْلَةُ بِنْتُ
سُهَيْلٍ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَهُ يَا
رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ سَالِمًا كَانَ مِنَّا حَيْثُ قَدْ عَلِمْتَ أَنَّا كُنَّا
نَعُدُّهُ وَلَدًا فَكَانَ يَدْخُلُ عَلَيَّ كَيْفَ شَاءَ لَا نَحْتَشِمُ مِنْهُ
فَلَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ وَفِي أَشْبَاهِهِ مَا أَنْزَلَ أَنْكَرْتُ
وَجْهَ أَبِي حُذَيْفَةَ إِذَا رَآهُ يَدْخُلُ عَلَيَّ قَالَ فَأَرْضِعِيهِ
عَشْرَ رَضَعَاتٍ ثُمَّ لِيَدْخُلْ عَلَيْكِ كَيْفَ شَاءَ فَإِنَّمَا هُوَ
ابْنُكِ فَكَانَتْ عَائِشَةُ تَرَاهُ عَامًّا لِلْمُسْلِمِينَ وَكَانَ مَنْ
سِوَاهَا مِنْ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرَى أَنَّهَا
كَانَتْ خَاصَّةً لِسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ الَّذِي ذَكَرَتْ
سَهْلَةُ مِنْ شَأْنِهِ رُخْصَةً لَهُ
11- (25125) حَدَّثَنَا
يَعْقُوبُ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَخِي ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَمِّهِ قَالَ
أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ أَتَتْ سَهْلَةُ
بِنْتُ سُهَيْلِ بْنِ عَمْرٍو وَكَانَتْ تَحْتَ أَبِي حُذَيْفَةَ بْنِ عُتْبَةَ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ سَالِمًا
مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ يَدْخُلُ عَلَيْنَا وَإِنَّا فُضُلٌ وَإِنَّا كُنَّا
نَرَاهُ وَلَدًا وَكَانَ أَبُو حُذَيْفَةَ تَبَنَّاهُ كَمَا تَبَنَّى رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَيْدًا فَأَنْزَلَ اللَّهُ
ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَأَمَرَهَا رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ أَنْ تُرْضِعَ سَالِمًا
فَأَرْضَعَتْهُ خَمْسَ رَضَعَاتٍ وَكَانَ بِمَنْزِلَةِ وَلَدِهَا مِنْ
الرَّضَاعَةِ فَبِذَلِكَ كَانَتْ عَائِشَةُ تَأْمُرُ أَخَوَاتِهَا وَبَنَاتِ
أَخَوَاتِهَا أَنْ يُرْضِعْنَ مَنْ أَحَبَّتْ عَائِشَةُ أَنْ يَرَاهَا وَيَدْخُلَ
عَلَيْهَا وَإِنْ كَانَ كَبِيرًا خَمْسَ رَضَعَاتٍ ثُمَّ يَدْخُلُ عَلَيْهَا
وَأَبَتْ أُمُّ سَلَمَةَ وَسَائِرُ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنْ يُدْخِلْنَ عَلَيْهِنَّ بِتِلْكَ الرَّضَاعَةِ أَحَدًا مِنْ
النَّاسِ حَتَّى يَرْضَعَ فِي الْمَهْدِ وَقُلْنَ لِعَائِشَةَ وَاللَّهِ مَا
نَدْرِي لَعَلَّهَا كَانَتْ رُخْصَةً مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِسَالِمٍ مِنْ دُونِ النَّاسِ
12- (23491) حَدَّثَنَا
بَهْزٌ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا أَشْعَثُ بْنُ سُلَيْمٍ
أَنَّهُ سَمِعَ أَبَاهُ يُحَدِّثُ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا رَجُلٌ
قَالَ فَتَغَيَّرَ
وَجْهُ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّهُ شَقَّ عَلَيْهِ
فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرْنَ مَا إِخْوَانُكُنَّ فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنْ
الْمَجَاعَةِ
13-
(25639) حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي الْخَلِيلِ
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ الْهَاشِمِيِّ عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ قَالَتْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِي فَجَاءَ
أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَانَتْ لِي امْرَأَةٌ فَتَزَوَّجْتُ
عَلَيْهَا امْرَأَةً أُخْرَى فَزَعَمَتْ امْرَأَتِي الْأُولَى أَنَّهَا أَرْضَعَتْ
امْرَأَتِي الْحُدْثَى إِمْلَاجَةً أَوْ إِمْلَاجَتَيْنِ وَقَالَ مَرَّةً رَضْعَةً
أَوْ رَضْعَتَيْنِ فَقَالَ لا تُحَرِّمُ الْإِمْلَاجَةُ وَلَا
الْإِمْلَاجَتَانِ أَوْ قَالَ الرَّضْعَةُ أَوْ الرَّضْعَتَانِ
14- (25645) حَدَّثَنَا
أَبُو كَامِلٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ أَنَّ الرَّسُولَ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُحَرِّمُ الْإِمْلَاجَةُ أَوْ
الْإِمْلَاجَتَانِ
15- (23922) حَدَّثَنَا
وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَشْعَثَ بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ
مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنْ الْمَجَاعَةِ
16- (24248) حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ وَبَهْزٌ قَالَا حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ بَهْزٌ
حَدَّثَنَا أَشْعَثُ بْنُ سُلَيْمٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَاهُ يُحَدِّثُ وَقَالَ
مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنِ الْأَشْعَثِ بْنِ سُلَيْمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ
مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا
رَجُلٌ فَكَأَنَّهُ غَضِبَ فَقَالَتْ إِنَّهُ أَخِي قَالَ انْظُرْنَ مَا
إِخْوَانُكُنَّ فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنْ الْمَجَاعَةِ
17- (24608) حَدَّثَنَا
وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَشْعَثَ عَنْ
أَبِيهِ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى عَائِشَةَ وَعِنْدَهَا رَجُلٌ قَالَ فَقَالَ مَنْ هَذَا
قَالَتْ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ انْظُرُوا مَنْ تُرْضِعُونَ فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنْ
الْمَجَاعَةِ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ انْظُرْنَ مَا إِخْوَانُكُنَّ
إِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنْ الْمَجَاعَةِ
8. Al-Darimi
1- (2151) حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنِي
اللَّيْثُ حَدَّثَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُحَرِّمُ
الْمَصَّةُ وَالْمَصَّتَانِ
2- (2152) أَخْبَرَنَا
سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ
أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ أَنَّ
رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ
اللَّهِ إِنِّي قَدْ تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً وَعِنْدِي أُخْرَى فَزَعَمَتْ الْأُولَى
أَنَّهَا أَرْضَعَتْ الْحُدْثَى فَقَالَ لَا تُحَرِّمُ الْإِمْلَاجَةُ وَلَا
الْإِمْلَاجَتَانِ
3- (2153) أَخْبَرَنَا
إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي
بَكْرٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ نَزَلَ الْقُرْآنُ بِعَشْرِ
رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ
فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُنَّ مِمَّا
يُقْرَأُ مِنْ الْقُرْآنِ
4- (2156) أَخْبَرَنَا
أَبُو الْوَلِيدِ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَشْعَثَ بْنِ
سُلَيْمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا رَجُلٌ
فَتَغَيَّرَ وَجْهُهُ وَكَأَنَّهُ كَرِهَ ذَلِكَ فَقُلْتُ إِنَّهُ أَخِي مِنْ
الرَّضَاعَةِ فَقَالَ انْظُرْنَ مَا إِخْوَانُكُنَّ فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ
مِنْ الْمَجَاعَةِ
9. Malik
1-
(1106) و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ
كَانَ يَقُولُ لَا رَضَاعَةَ إِلَّا لِمَنْ أُرْضِعَ فِي الصِّغَرِ وَلَا
رَضَاعَةَ لِكَبِيرٍ
2- (1111) و حَدَّثَنِي
عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ
الْمُسَيَّبِ يَقُولُ لَا رَضَاعَةَ إِلَّا مَا كَانَ فِي الْمَهْدِ وَإِلَّا
مَا أَنْبَتَ اللَّحْمَ وَالدَّمَ
3- (1115) و حَدَّثَنِي
عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ أَبَا مُوسَى
الْأَشْعَرِيَّ فَقَالَ إِنِّي مَصِصْتُ عَنْ امْرَأَتِي مِنْ ثَدْيِهَا لَبَنًا
فَذَهَبَ فِي بَطْنِي فَقَالَ أَبُو مُوسَى لَا أُرَاهَا إِلَّا قَدْ حَرُمَتْ
عَلَيْكَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ انْظُرْ مَاذَا تُفْتِي بِهِ
الرَّجُلَ فَقَالَ أَبُو مُوسَى فَمَاذَا تَقُولُ أَنْتَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ
بْنُ مَسْعُودٍ لَا رَضَاعَةَ إِلَّا مَا كَانَ فِي الْحَوْلَيْنِ فَقَالَ
أَبُو مُوسَى لَا تَسْأَلُونِي عَنْ شَيْءٍ مَا كَانَ هَذَا الْحَبْرُ بَيْنَ
أَظْهُرِكُمْ
4- (1114) و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ
أَنَّهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ وَأَنَا مَعَهُ
عِنْدَ دَارِ الْقَضَاءِ يَسْأَلُهُ عَنْ رَضَاعَةِ الْكَبِيرِ فَقَالَ
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ
إِنِّي كَانَتْ لِي وَلِيدَةٌ وَكُنْتُ أَطَؤُهَا فَعَمَدَتْ امْرَأَتِي إِلَيْهَا
فَأَرْضَعَتْهَا فَدَخَلْتُ عَلَيْهَا فَقَالَتْ دُونَكَ فَقَدْ وَاللَّهِ
أَرْضَعْتُهَا فَقَالَ عُمَرُ أَوْجِعْهَا وَأْتِ جَارِيَتَكَ فَإِنَّمَا
الرَّضَاعَةُ رَضَاعَةُ الصَّغِيرِ
5-
(1113) حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ
رَضَاعَةِ الْكَبِيرِ فَقَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ أَبَا
حُذَيْفَةَ بْنَ عُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا وَكَانَ تَبَنَّى
سَالِمًا الَّذِي يُقَالُ لَهُ سَالِمٌ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ كَمَا تَبَنَّى
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ وَأَنْكَحَ
أَبُو حُذَيْفَةَ سَالِمًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ ابْنُهُ أَنْكَحَهُ بِنْتَ
أَخِيهِ فَاطِمَةَ بِنْتَ الْوَلِيدِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَهِيَ
يَوْمَئِذٍ مِنْ الْمُهَاجِرَاتِ الْأُوَلِ وَهِيَ مِنْ أَفْضَلِ أَيَامَى
قُرَيْشٍ فَلَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ فِي زَيْدِ بْنِ
حَارِثَةَ مَا أَنْزَلَ فَقَالَ
ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا
آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ رُدَّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْ
أُولَئِكَ إِلَى أَبِيهِ فَإِنْ لَمْ يُعْلَمْ أَبُوهُ رُدَّ إِلَى مَوْلَاهُ
فَجَاءَتْ سَهْلَةُ بِنْتُ سُهَيْلٍ وَهِيَ امْرَأَةُ أَبِي حُذَيْفَةَ وَهِيَ
مِنْ بَنِي عَامِرِ بْنِ لُؤَيٍّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ كُنَّا نَرَى سَالِمًا وَلَدًا وَكَانَ
يَدْخُلُ عَلَيَّ وَأَنَا فُضُلٌ وَلَيْسَ لَنَا إِلَّا بَيْتٌ وَاحِدٌ فَمَاذَا
تَرَى فِي شَأْنِهِ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَرْضِعِيهِ خَمْسَ رَضَعَاتٍ فَيَحْرُمُ بِلَبَنِهَا وَكَانَتْ
تَرَاهُ ابْنًا مِنْ الرَّضَاعَةِ فَأَخَذَتْ بِذَلِكَ عَائِشَةُ أُمُّ
الْمُؤْمِنِينَ فِيمَنْ كَانَتْ تُحِبُّ أَنْ يَدْخُلَ عَلَيْهَا مِنْ الرِّجَالِ
فَكَانَتْ تَأْمُرُ أُخْتَهَا أُمَّ كُلْثُومٍ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ
وَبَنَاتِ أَخِيهَا أَنْ يُرْضِعْنَ مَنْ أَحَبَّتْ أَنْ يَدْخُلَ عَلَيْهَا مِنْ
الرِّجَالِ وَأَبَى سَائِرُ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنْ يَدْخُلَ عَلَيْهِنَّ بِتِلْكَ الرَّضَاعَةِ أَحَدٌ مِنْ النَّاسِ
وَقُلْنَ لَا وَاللَّهِ مَا نَرَى الَّذِي أَمَرَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَهْلَةَ بِنْتَ سُهَيْلٍ إِلَّا رُخْصَةً مِنْ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَضَاعَةِ سَالِمٍ
وَحْدَهُ لَا وَاللَّهِ لَا يَدْخُلُ عَلَيْنَا بِهَذِهِ الرَّضَاعَةِ أَحَدٌ
فَعَلَى هَذَا كَانَ أَزْوَاجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي
رَضَاعَةِ الْكَبِيرِ
6- (1118) و حَدَّثَنِي
عَنْ مَالِك عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ حَزْمٍ عَنْ عَمْرَةَ
بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ فِيمَا أُنْزِلَ مِنْ الْقُرْآنِ
عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ
فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِيمَا
يُقْرَأُ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ يَحْيَى قَالَ مَالِك وَلَيْسَ عَلَى هَذَا
الْعَمَلُ
III. Kualitas
Hadis
1. Kritik Sanad
Hadis
Dalam kegiatan kritik sanad hadis,
penulis memfokuskan pada jalur yang ditakhrij Imam Bukhari dengan sistematika
rentetan sanad yang dimulai dari Sanad I/periwayat terakhir/mukharrij
hingga sanad terakhir/ periwayat I, yaitu: Imam al-Bukhari, Muhammad bin
Katsir, Sufyan, Asy’ats bin Abi Sya’tsa’, Abihi, Masruq, dan Aisyah.
- Al-Bukhari
Nama aslinya adalah Muhammad bin Ismail, kakeknya bernama
Ibrahim ibn Mughirah. Beliau dilahirkan pada hari Jum’at, tanggal 13 Syawal
tahun 149 H di Bukhara. Di tempat kelahirannya inilah ia dinisbahkan untuk
selanjutnya dimasyhurkan dengan nama al-Bukhari. Beliau wafat pada malam Sabtu
(setelah shalat Isya) bertepatan dengan malam Idul Fitri tahun 256 H di
Samarkand.[17]
Bukhari menggeluti ilmu di bidang hadis sejak usia 16
tahun dan belajar kepada ulama-ulama besar di berbagai negeri-negeri Islam.
Secara ringkas dapat disebutkan sebagai berikut: Humaidi (Makkah), Abd al-Azis
(Madinah), Makki ibn Ibrahim (Balakh), Ali ibn Hasan dan Abdullah ibn Usman
(Marwa), Yahya ibn Yahya (Naisabur), Ibrahim ibn Musa (Rai), Surai ibn Nu’man
dan Ahmad ibn Hambal (Baghdad), Abu Askim Nabail (Bashrah), Thaliq ibn Ghanam
dan Khalad ibn Yahya (Kufah), dan Sa’id ibn Katsir (Mesir) dan lain-lain.[18]
Beberapa penilaian ulama terhadap
beliau antara lain:[19]
- Muhammad ibn Hamdawiyah; saya pernah mendengar
al-Bukhari berkata: Saya hafal 100.000 hadis sahih dan 250.000 hadis yang tidak
sahih.
- Abu Bakar al-Kaluzani; Saya tidak
pernah melihat orang secerdas Muhammad ibn Ismail, ia mengambil ilmu dari kitab
demi kitab, sekali ditelaahnya, ia dapat menghafal seluruh hadis yang ada.
- Muhammad bin Hatim; Saya pernah bertanya
kepada Muhammad bin Ismail, adakah anda menghafal semua yang anda susun di
dalam kitab-kitab? Beliau menjawab: Tidak ada yang tersembunyi pada saya apa
yang terdapat di dalamnya.
Penggunaan sighat tahammul dengan
kualitas tinggi (حدثنا),
antara Bukhari dan Muhammad bin Katsir membuktikan adanya pertemuan dan
pengakuan guru-murid di antara keduanya dan dapat menjadikan kedudukan riwayat
ini diterima.
Kuniyah-nya ialah Abu Abdullah, dan laqab-nya
ialah al-‘Abdiy, al-Bashriy. Ia meriwayatkan hadis dari beberapa orang di
antaranya: Ibrahim bin Nafi’ (Abu Ishaq), Isra’il bin Yunus bin Abi Ishak (Abu
Yusuf), Ja’far bin Sulaiman (Abu Sulaiman), Sufyan bin Sa’id bin Masruq (Abu
Abdullah), Sulaiman bin Katsir (Abu Daud), Sulaiman bin Mughirah (Abu Sa’id),
Syu’bah bin al-Hajjaj bin al-Warid (Abu Bustham), Abd al-Rahman bin Amr bin Abi
Amr (Abu Amr), Mahdi bin Maymun (Abu Yahya). Hummam bin Yahya bin Dinar (Abu
Abdullah).
Adapun murid beliau yaitu: Al-Husayn
bin Muhammad al-Ja’far (Abu Ali), Abd al-hamid bin Hamid bin Nashir (Abu
Bakar), Abullah bin Abd al-Rahman bin al-Fadhl bin Bahram (Abu Muhammad),
Muhammad bin Ismail bin Ibrahim (Abu Abdullah). Muhammad bin Ismail bin
Ibrahim, Muhammad bin Ma’mar (Abu Abdullah), Muhammad bin Yahya bin Abdullah
bin Faris (Abu Abdullah) dan lain-lain.
Mengenai kredibilitas beliau menurut
Abd al-Gaffar adalah tsiqah dan tidak ditemukan hal yang melemahkannya.
Begitupula beberapa pendapat yang diungkap dalam Maushu’ah al-hadis
al-Syarif (CD Digital), antara lain: Ahmad bin Hambal dan Ibnu Hibban
menilai tsiqah, Abu Hatim al-Razi menilai suduq. Namun Yahya bin
Mu’ayyin menilai bahwa beliau belum mencapai derajat tsiqah, sedangkan
Ibnu Qana’ menilainya dha’if. Muhammad bin Katsir wafat di usia 90 tahun
pada tahun 223 H.
Nama lengkapnya ialah Sufyan bin Sa’id
bin Masruq, kuniyah-nya yaitu Abu Abdullah dan laqab-nya adalah al-Tsaury,
al-Kufiy. Guru-guru beliau antara lain: Adam bin Sulaiman (Abu Yahya), Ibrahim
bin Amir bin Mas’ud, Ibrahim bin Abd al-A’la, Ibrahim bin Uqbah bin Abi ‘Iyasy,
Ibrahim bin Muhammad bin Muntasyir bin al-Ajda’, Ibrahim bin Muhajir bin Jabir
(Abu Ishaq), Ibrahim bin Maisarah, Abu Bakar bin Abdullah bin Abi Jahm (Abu
Bakar) dan lain-lain.
Adapun para murid beliau antara lain:
Ibrahim bin Sa’id bin Ibrahim, bin Abd al-Rahman bin Auf (Abu Ishaq), Ibrahim
bin Thahman bin Syu’bah (Abu Sa’id), Ibrahim bin Muhammad bin al-Harits bin
Asma’ bin Kharijah (Abu Ishak), Asbath bin Muhammad bin Abd al-Rahman (Abu
Muhammad), Ishaq bin Isma’il (Abu Ya’qub), Ishaq bin Yusuf bin Mirdas (Abu
Muhammad) dan masih banyak lagi lainnya.
Menyangkut tentang kredibilitas beliau,
maka ulama menilainya tsiqah, hafidz, Imam yang dijadikan hujjah.
Beliau wafat pada tahun 161 H.
Nama lengkapnya adalah Asy’ats ibn Abi
al-Sya’tsa’ Salim ibn Yazid, Aswad bin Hilal dan lainnya. Sedang
murid-muridnya: Syu’bah, al-Tsauri, Abu al-Ahwash dan selain mereka.[23]
Mayoritas Ulama Hadis menilai beliau
dengan penilaian positif. Ibn Ma’in, Abu Hamid dan al-Nasa’iy menilainya
sebagai tsiqah, hal senada diungkapkan pula oleh Ahmad bin Hambal.[24]
Berdasarkan data itu, diperkirakan terjadi
pertemuan guru dan murid karena adanya pengakuan dari kedua belah pihak. Dengan
demikian terjadi ittisal al-Sanad yang memungkinkan diterimanya riwayat
dari beliau.
Abihi yang dimaksud dalam hadis
tersebut yakni Salim bin Aswad bin Hanzhalah al-Muharabiy al-Kufi.[26] Guru-gurunya antara lain: Abu Dzar,
Huzaifah, Ibn Mas’ud, Salman al-Faris, Abu Hurairah dan lain-lain. Sedangkan
murid-muridnya yaitu: anaknya sendiri (Asy’ats bin Abi Sya’tsa’), Ibrahim ibn
Muhajir, Hubaib ibn Abi Tsabit.
Penilaian para kritikus hadis terhadap
pribadi beliau umumnya menilai dengan predikat ta’dil dan tsiqah.
Hal ini misalnya diungkapkan oleh Ibn Ma’in, Ahmad bin Hambal, al-Nasa’iy,
al-Ajaly. Abu Hatim al-Razi mengatakan bahwa keteladanan beliau tidak
diragukan. Begitu pula penilaian yang dikemukakan oleh Ibn Sa’ad dan Abd
al-Bar, keduanya menilainya sebagai orang yang tsiqah.[27]
Sekalipun Salim ibn Aswad menerima
hadis dari gurunya (Masruq) dengan lambang tahammul al-Hadis yang masih
diperselisihkan, yaitu عن
, namun atas dasar penilaian kritikus hadis yang mayoritas menilai beliau
dengan predikat tsiqah dan ditunjang adanya pengakuan antara guru dan
murid terjadi pertemuan, maka riwayat beliau dapat diterima sebagai hadis
sahih.
f. Masruq (w.
63 H)[28]
Nama
lengkapnya adalah Masruq ibn al-Aida ibn Malik ibn Umayyah ibn Abdillah ibn
Murra ibn Salaman ibn Ma’mar ibn al-Harits ibn Sa’id bin Abdullah bin Wada’ah.
Adapun ulama yang menjadi gurunya antara lain: Abu Bakar, Umar, Aisyah, dan Umm
Salamah. Sedangkan murid beliau cukup banyak, di antaranya: Abu al-Wa’il, Abu
al-Duha, Abd al-Rahman ibn Mas’ud, Abi al-Sya’tsa’, dan lain-lain.
Penilaian
kritikus hadis terhadap peribadi beliau secara umum menilai sebagai orang tsiqah,
di antaranya: Menurut al-‘Ajaly, Ibn Main dan Ibn Sa’ad bahwa ia termasuk
tabi’in kufah yang tsiqah dan banyak hadisnya.[29]
Melalui
penilaian ulama hadis terhadap beliau, dan pengakuan antara murid dan guru,
maka dapat ditetapkan bahwa antara Masruq dan Aisyah adalah muttasil dan
dapat diterima riwayatnya.
- Aisyah (w. 57/58 H)[30]
Nama lengkapnya adalah Aisyah binti Abi Bakar al-Shiddiq,
digelar dengan umm al-Mu’minin. Kuniyah-nya ialah Umm Abdillah
al-Fiqhiyah dan laqab-nya ialah al-Taimiyah.[31] Beliau salah seorang isteri Rasulullah
Saw., diperisterikan oleh Nabi pada usia sekitar enam atau tujuh tahun sebelum
hijrah ketika Khadijah telah wafat dan Nabi telah memperisteri Saudah (seorang
janda yang telah lanjut usia). Aisyah tinggal bersama Nabi ketika telah berumur
sembilan tahun.[32]
Guru-gurunya: Rasulullah Saw., Abu Bakar al-Shiddiq,
Umar, Hamzah bin Aslamy. Sedangkan murid-muridnya: Umm Kalsum binti Abi Bakar,
Auf ibn Haris ibn al-Tafil, Amrah binti abd al-Rahman.[33]
Pandangan beberapa kritikus hadis tentang beliau:[34]
1. Anas bin Malik; Rasulullah bersabda: “Keutamaan
Aisyah terhadap wanita (lainnya) bagaikan keutamaan roti kuah terhadap semua
makanan”.
2. Abu Musa al-Asy’ari: Tidak satupun yang kami
tanyakan kepada Aisyah kecuali kami mendapatkan jawabannya.
3. Hisyam ibn Urwah: Saya tidak melihat seorang
yang lebih mengetahui tentang fikih, obat-obatan, syair Arab daripada Aisyah.
Aisyah adalah orang keempat dari tujuh sahabat yang banyak meriwayatkan hadis
(bendaharawan hadis).[35]
Aisyah
dikenal memiliki banyak keutamaan, cerdas, memiliki pengetahaun Islam yang
luas. Di kalangan sahabat, Aisyah termasuk banyak menyampaikan fatwa agama.[36] Berbagai komentar dan pujian terhadap
Aisyah dapat menyimpulkan kredibilitas beliau ke dalam shahih al-Sanad.
Berdasarkan penilitian dari
masing-masing periwayat tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa:
- Para periwayat yang diteliti memiliki kredibilitas pribadi dan kemampuan intelektual yang diakui oleh mayoritas ulama/kritikus hadis.
- Penggunaan lambang-lambang yang berkualitas tinggi dalam penerimaan riwayat menunjukkan kedekatan antara guru dan murid, di antaranya adalah lambang haddatsana.
- Melihat kepada tahun kelahiran atau tahun wafat masing-masing periwayat mengindikasikan adanya tahammul dan ada’ antara guru dan murid yang menunjukkan adanya proses transmisi ketersambungan sanad.
Dengan demikian, hadis tersebut secara sanad berkualitas Sahih.
2. Kritik Matan
Hadis
Beberapa indikator dalam menentukan
kesahihan matan hadis ini tentunya mengacu pada kriteria apakah hadis tersebut
terhindar dari syadz dan illat. Untuk itu, beberapa hal yang
menjadi syarat kesahihan matan antara lain; Tidak bertentangan dengan: petunjuk
Alquran, akal sehat, ilmu pengetahuan dan sejarah, hadis-hadis mutawatir,
hadis-hadis yang disepakati ulama, dalil-dalil qat’iy, hadis ahad yang
derajat kesahihannya lebih tsiqah, dan susunan pernyataannya menunjukkan
sabda kenabian.
Berdasarkan
kriteria kesahihan matan yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam penelitian
matan, maka akan dilihat satu persatu persesuaian atau pertentangan dengan
kriteria-kriteria tersebut.
a.
Posisinya
terhadap nash-nash yang sifatnya qath’íy tidaklah bertentangan.
Sebaliknya, isinya sangat sesuai dengan prinsip-prinsip petunjuk umum Alqurán
dan merupakan penjelasan terhadap hadis-hadis yang berkaitan dengan kuantitas
susuan yang menyebabkan mahram. Bahwasanya yang menjadikan ukuran kemahraman
adalah pada saat lapar si bayi menyusu pada seorang perempuan sampai ia
kenyang, dan kenyangnya seorang bayi tidak cukup hanya satu atau dua kali, tapi
bisa tiga atau lima kali susuan.
b.
Secara logika,
hadis itu sejalan dengan akal sehat, karena adanya perintah Nabi untuk
memperhatikan saudara-saudara susuan dengan berdasar pada rasa lapar sampai
kenyang.
c.
Susunan redaksi
tampak bisa diterima, sebab berisi petunjuk ajaran agama yang berada pada
koridor kewajaran. Petunjuk ini merupakan bentuk antisipatif atau protektif
terhadap kemungkinan kesalahpahaman hubungan mahram yang juga
berimplikasi kepada mashlahah yang lebih luas.
d.
Tidak
bertentangan dengan fakta sejarah serta memenuhi unsur sebagai sabda kenabian
(hadis) yakni ada periwayat, sanad, dan matan.[37]
Melalui tolak
ukur tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa matan hadis tersebut berkualitas shahih.
3.
Sabab al-Wurud Hadis
Hadis tersebut diucapkan Nabi ketika
menemukan Aisyah menerima tamu lelaki di rumah beliau, sedang beliau tidak
mengetahui siapa lelaki yang bersama Aisyah tersebut, lalu Aisyah menjelaskan
bahwa lelaki itu adalah mahram Aisyah karena susuan. Lalu nabi
mengingatkan untuk memperhatikan kriteria susuan, yakni bersumber dari rasa
lapar dan mengenyangkan.[38]
4.
Analisis Kosa Kata dan Pendapat Para Ulama
Kata al-Radhaáh (menyusukan) memiliki makna dasar yang berarti:
Secara
etimologis, al-Radha’ah berarti suatu nama untuk isapan atau sedotan air
susu dari al-Sady (payudara), baik yang dimiliki oleh manusia maupun
susu binatang. [40]
Jika titik
berat dalam pengertian leksikal ini terletak pada isapan dari al-Sady, maka jika air susu itu diperah
kemudian diminumkan kepada seseorang, hal tersebut tidak dinamakan radha’ah.
Dalam pengertian ini pula tidak diisyaratkan besar kecilnya orang yang menyusu.[41] Dengan kata lain, siapapun yang
menyusu, dewasa atau bayi, kepada manusia atau binatang, dinamakan radha’ah.
Ketika istilah ini dibawa ke dalam hukum Islam, maka
pengertiannya dirumuskan sebagai berikut: وصول لبن ادمية الي جوف الطفل لم يذد سنه علي حولين,[42] yakni “Sampainya air susu sang ibu ke dalam perut bayi yang belum
berumur lebih dari dua tahun”. Dengan definisi tersebut, maka pengertian radha’ah
menjadi lebih terbatas secara terminologi dengan ketentuan:
1)
Jika dalam
pengertian etimologi radha’ah mencakup manusia dan binatang, maka dalam
pengertian terminologinya terbatas pada manusia saja.
2) Jika radha’ah dalam makna awalnya (lughawi)
tidak terbatas pada siapa saja yang meminum air susu, maka dalam pengertian istilahi,
orang yang menyusu terbatas pada al-Tifl (anak-anak) saja. Artinya,
penyusuan yang dilakukan oleh orang dewasa tidak termasuk dalam pengertian radha’ah
sebagaimana dikehendaki oleh syari’at.
Kata kunci lain
yang perlu dijelaskan adalah kata al-Majaáh
yang merupakan tolak ukur dalam susuan yang berpengaruh pada hukum mahram dari
aspek kualitas. Kata المجاعة
terambil dari kata جوع yang bermakna kelaparan/hal tidak
makan.[43] Al-Asqalani
dalam Fath al-Bary mengartikan المجاعة dengan penyusuan yang menutupi rasa lapar bayi di
masa menyusunya.[44] Demikian pula
oleh al-Sindy pada catatan pinggir Sahih
Bukhari, yang pada catatan lain ditambahkannya bahwa penyusuan itu bukan
hanya menutupi rasa lapar, tetapi juga menguatkan badan dan terjadi sebelum
berumur dua tahun.[45] Bertolak dari
pendapat tersebut, tersirat bahwa rasa lapar yang dimaksud adalah rasa lapar
pada air susu yang menjadi makanan pokok pada masa menyusu sang anak.
Sayyid Sabiq
memaknai المجاعة
dengan penyusuan yang bisa mengenyang- kan dan tidak berhenti menyusu kecuali
dengan kemauannya sendiri, tanpa paksaan dan ini dilakukan sebelum berumur dua
tahun dan rasa lapar itu bersumber dari keperluan atau kebutuhan akan air susu.[46]
Berdasar pada
beberapa pendapat tersebut, maka dipahami bahwa kualitas susuan yang dapat
mengakibatkan adanya hubungan mahram adalah susuan yang dapat
menghilangkan rasa lapar atau dapat mengenyangkan seorang anak yang
mengkonsumsi air susu ibu (ASI) sebagai menu utamanya. Hal ini sangat beralasan
jika melihat hadis yang senada dengan hadis tersebut sebagaimana diriwayatkan
oleh Umm Salamah:
“Tidak haram nikah dari sesusuan itu kecuali sesuatu yang
dapat menyubur-kan usus atau mengenyangkan perut.
Logikanya, seorang anak hanya bisa
kenyang menyusu apabila dilakukan berkali-kali, sehingga hadis itu mencerminkan
persesuaian dengan hadis-hadis lain menyangkut kuantitas susuan yang dapat
berefek pada mahram. Meskipun pengertian tersebut, baik secara etimologi
maupun terminologi tidak menegaskan batas umur anak yang menyusu, namun
mayoritas ulama sepakat bahwa usia anak menyusu yang dapat menjadi penghalang
nikah adalah dua tahun. Oleh karena itu, Imam Malik, Abu Hanifah, Syafi’i, dan
sejumlah ulama lainnya berpendapat bahwa penyusuan anak yang besar (dewasa)
tidak menyebabkan keharaman nikah. Pendapat ini juga dianut oleh Ibnu Mas’ud,
Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Hurairah. Namun Aisyah, Abu Daud dan ulama Zahiri
berpandangan sebaliknya, bahwa anak yang besar (dewasa) juga menyebabkan keharaman
nikah, sebagaimana penyusuan terhadap anak kecil.[48]
Perbedaan pendapat tersebut pada
dasarnya hanya menyangkut anak di atas dua tahun, sedangkan anak usia dua tahun
ke bawah tidak menjadi masalah. Dengan kata lain, mayoritas ulama sepakat bahwa
penyusuan terhadap anak yang maksimal berusia dua tahun menyebabkan keharaman
nikah.[49] Hal ini
dilegitimasi oleh firman Allah dalam QS. al-Baqarah (2): 233.
وَالْوَالِدَاتُ
يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ
الرَّضَاعَةَ
“Para ibu hendaknya menyusukan anak-anaknya selama dua
tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan”
Ayat ini secara tegas menyebutkan
masa yang dibutuhkan oleh anak untuk menyusu, yaitu dua tahun. Anak yang
menyusu pada usia ini menurut Sayyid Sabiq adalah anak yang masih kecil yang
kebutuhan makannya dapat terpenuhi dengan air susu. Dagingnya tumbuh dari air
susu itu sehingga ia menjadi bagian dari wanita yang menyusuinya, karena itu
pula antara keduanya terhalang untuk menikah.[50]
Secara umum, tolak ukur penyusuan
dari segi kualitas air susu berdasarkan uraian-uraian pendapat para ulama
tersebut adalah air susu yang diminum anak pada saat dahaga dan dengan air itu
dapat menghilangkan dahaganya. Di sisi lain, ais susu tersebut adalah yang
dapat membentuk tulang dan daging, sebagaimana sabda Nabi yang menyatakan:
“Tidak dinamakan penyusuan kecuali sesuatu yang
menjadikannya tulang dan menumbuhkan daging.”
Selanjutnya, mengenai kuantitas atau
frekuensi penyusuan sebagai tolak ukur hukum radha’ah juga masih
dipersilisihkan oleh ulama. Perbedaan itu antara lain: [52]
a.
Daud al-Zahiri, Abu Tsaur, Abu Ubaid dan Ibnu Mundzir
berpendapat bahwa frekuensi susuan yang mengakibatkan status mahram
adalah yang dilakukan sebanyak tiga kali atau lebih dan salah satu riwayat dari
Ahmad. Alasan ini didasarkan pada salah satu hadis riwayat Muslim dari jalur
Aisyah dan Ummal Fadhl:
“Satu atau dua
kali isapan (sedotan air susu) tidak mengharamkan (nikah). Demikian juga satu
atau dua kali susuan”.
Dalam
hadis lain riwayat Muslim, Nabi bersabda:
لاتُحَرِّمُ الاِمْلَاجَةُ وَالاِمْلَاجَتَانِ [54]
“Satu atau dua kali sedotan (air susu) tidaklah
mengharamkan (nikah)”
b.
Ali bin Abi Thalib, Ibn Abbas, al-Hadawiyah, Hanifah, dan
Malik bin Anas berpendapat bahwa sedikat atau banyaknya susuan, asal telah
masuk rongga perut, maka telah mengakibatkan status mahram. Alasannya,
bahwa Alqur’an tidak merinci frekuensi dan kuantitas susuan yang menjadikan mahram.
Apabila kegiatan telah disebut menyusu, maka status susuan telah terwujud.
Alasan ini didasarkan pada kaidah yang menyatakan:
فحيث وجد أسمه وجد حكمه
“Jika
telah terwujud namanya, terwujud pula hukumnya”
c.
Ibnu Mas’ud, Zubair, al-Syafi’i, Ahmad bin Hambal
berpendapat bahwa kadar susuan yang dapat mengakibatkan terjadinya hukum mahram
adalah yang dilakukan lima kali. Alasan ini didasarkan pada hadis yang
diriwayatkan oleh Ahmad:
حَدَّثَنَا
عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ
امْرَأَةَ أَبِي حُذَيْفَةَ فَأَرْضَعَتْ سَالِمًا خَمْسَ رَضَعَاتٍ فَكَانَ
يَدْخُلُ عَلَيْهَا بِتِلْكَ الرَّضَاعَةِ . [55]
(Hadis riwayat Aisyah) bahwa Rasulullah Saw. telah
memerintahkan isteri Abi Hudzaifah untuk menyusui Salim. Maka disusukanlah
Salim sebanyak lima kali susuan. Maka Salim masuk menjadi mahram isteri
Hudzaifah karena sebab susuan tersebut.
Begitupula
terdapat riwayat lain yang senada sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى
مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ فِيمَا أُنْزِلَ مِنْ الْقُرْآنِ عَشْرُ رَضَعَاتٍ
مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ فَتُوُفِّيَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُنَّ فِيمَا يُقْرَأُ مِنْ
الْقُرْآنِ . [56]
(Hadis Riwayat Aisyah) bahwasanya ia berkata: Konon apa
yang telah diturunkan Alqur’an adalah sepuluh kali susuan yang sudah diketahui,
lalu hal itu di-nasakh dengan lima kali susuan (ma’lumat), lantas Rasulullah
wafat sedangkan lima kali susuan itu merupakan sesuatu yang dibaca dalam
Alqur’an.
Mengacu kepada ketiga argumen tersebut
maka Syuhudi Ismail melihat bahwa pendapat ketiga merupakan pendapat yang
terkuat dengan alasan:[57]
- Argumen dari pendapat pertama yang menyatakan bahwa kadar susuan adalah tiga kali atau lebih, maka susuan yang hanya satu dan dua kali belum memenuhi syarat. Alasan tersebut sesungguhnya didasarkan pada pemahaman (mafhum). Sedangkan alasan pada pendapat ketiga bukan sekedar pemahaman, melainkan berdasarkan mantuq (yang dituju oleh lafal dalil naqli) dengan kaidah:
فإن
الحكم من المنطوق وهو أقوى من المفهوم فهو مقدم عليه
“Sesungguhnya
hukum yang berdasarkan mantuq adalah lebih kuat daripada yang berdasarkan
mafhum-nya” [58]
b. Argumen
dari pendapat kedua menempatkan masalah susuan sebagai dalil yang mujmal (global).
Padahal hadis Nabi Saw. yang berfungsi sebagai penjelas terhadap ayat yang umum
telah memberikan keterangan tentang masalah susuan itu, yakni kriteria
kuantitas susuan yang berakibat status mahram bagi wanita.[59]
5. Pemahaman
Tekstual dan Kontekstual Hadis
Secara tekstual, beberapa riwayat
yang termuat dalam pembahasan ini telah secara tegas memberikan batasan-batasan
yang terkait dengan tolak ukur susuan sehingga menyebabkan terjadinya hubungan mahram,
yakni menyangkut aspek kualitas dan kuantitas air susu (ASI) tersebut.
Hadis-hadis tentang tolak ukur
penyusuan, baik kualitas maupun kuantitas yang menyebabkan hukum mahram dapat
dipahami melalui pendekatan ilmu kedokteran atau kesehatan. Relevansinya tampak
sebagaimana dipahami bahwa ASI yang dikonsumsi adalah gizi bagi si bayi dalam
tahap pertumbuhannya, yakni menumbuhkan tulang dan daging baginya. Secara medis
dalam pendekatan tersebut menunjukkan bahwa ASI tersusun dari saripati yang
benar-benar murni sebagai output dari apa yang di makan oleh ibu yang
menyusui.
Di sisi lain, anak yang disusui akan
mewarisi watak dan perangai seperti anak yang dilahirkan oleh ibu yang
menyusuinya. Ia seolah-olah merupakan bagian dari tubuhnya yang terpisah dan
berdiri sendiri, karena itu pula ia akan menjadi anggota keluarganya sekaligus
menjadi mahram-nya.
Adapun pemahaman kontekstual
terhadap tolak ukur penyusuan ini misalnya dapat ditemukan pada pendapat yang
diungkapkan oleh ulama kontemporer, Yusuf al-Qardhawi. Dalam kumpulan fatwanya,[60] beliau
menulis bahwa dasar keharaman yang diletakkan agama bagi penyusuan adalah “ibu
yang menyusukan” sebagaimana ditegaskan pada QS. al-Nisa: 23. Maksudnya
bahwa keibuan yang ditegaskan Alqur’an itu tidak mungkin terjadi hanya dengan
menerima/meminum air susunya, tetapi dengan mengisap dan menempel sehingga
menjadi jelas kasih sayang ibu dan ketergantungan anak yang menyusu. Pendapat
yang dikemukakan oleh Yusuf al-Qardhawi tersebut lebih melihat persusuan
sebagai suatu proses ikatan batin antara ibu dan anak secara psikologi.
Pemahaman seperti ini berimplikasi
lebih jauh dengan menilai bahwa sifat penyusuan yang memiliki dampak hukum
hanyalah yang diisap saja dengan mulut secara langsung dari tetek ibu. Adapun
bila air susu diminum melalui wadah lain setelah diperas atau disuntikkan
kepada anak, maka semua itu tidak mengakibatkan hukum mahram. Atas dasar ini
pula al-Qardhawi menilai bahwa memberi minum bayi dari Bank Susu (Bank ASI dan
ASI kaleng dan Penyuntikan ASI) sebagaimana dikenal di beberapa negara,
tidaklah mengakibatkan dampak hukum.[61]
6. Kandungan
Petunjuk Hadis
Salah satu
episode kehidupan Rasulullah Saw. adalah riwayat ketika beliau masih bayi,
ibunya mengikuti adat kebiasaan bangsawan Makkah untuk menyerahkan anaknya
diasuh dan disusui oleh perempuan Badui yang bermukim di luar kota Makkah. Pada
perkembangannya beberapa puluh tahun kemudian penyususan ini memiliki dampak
hukum yang dilegitimasi oleh wahyu secara eksplisit dalam QS. Al-Nisa’ (4): 23.
Sejalan dengan
ayat tersebut, Nabi menjelaskan sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari yang
bersumber dari Aisyah:
“Sesungguhnya susuan itu mengharamkan apa yang menjadi
haram karena kelahiran (keturunan)”
Berdasarkan ayat dan hadis di atas
menunjukkan bahwa dengan adanya penyusuan maka mutlak terjadi pengharaman
perkawinan dari dan atas orang yang terkait dengan penyusuan itu. Namun yang
menjadi masalah adalah mengenai kadar susuan, yakni apakah setiap anak yang
menyusu itu otomatis pula digolongkan sebagai anak susuan? Jawabnya, tentu
tidak demikian. Oleh karena itu, kriteria penyusuan dari aspek kualitas maupun
kuantitas yang berdampak pada hukum mahram dapat diketahui melalui
beberapa hadis dengan masing-masing ketentuan, yakni:
- Berdasarkan pada kualitas penyusuan, yaitu dari rasa lapar sampai kenyang bagi bayi yang disusui serta kemungkinan membentuk tulang dan daging.
- Berdasarkan pada kuantitas penyusuan, yaitu satu sampai dua isapan tidak menyebabkan kemahraman.
- Masa umur penyusuan, yakni satu hingga dua tahun.
Dari tiga alasan tersebut, tampak bahwa persoalan radha’ah
tidak dapat dipandang sebagai hal sepele, karena konsekuensi dari hal itu
akan berimplikasi kepada kemahraman dan termasuk prinsip yang harus
diperhatikan oleh setiap orang yang bermaksud melangsungkan perkawinan, yaitu
calon suami dan isteri, dari kemungkinan adanya hubungan mahram. Sebab, sisi
lain dari hal itu adalah menyangkut salah satu dari syarat sahnya akad nikah.
Oleh karena itu pula pengkajian terhadap hal ini merupakan upaya melihat maqashid
al-Tasyri’ dan kemashlahatan yang lebih luas. Lebih jauh lagi, diperlukan
sikap kehati-hatian bagi setiap orang dalam persoalan ini, karena ketentuan
hukumnya sudah jelas, yakni haramnya untuk saling menikahi.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Muhammadiyah. Menembus
Lailatul Qadr; Perdebatan Interpretasi Hadis Tekstual dan Kontekstual. Cet.
I; Makassar: MELANIApress, 2004.
Al-Ainiy, Abu Muhammad Mahmud Ibn
Ahmad. Umdat al-Qary Syarh Shahih
al-Bukhari, Jilid XI. Beirut: Dar al-Fikr, t. th.
al-Andalusi, Abu al-Walid
Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Rusyd al-Qurthubi. Bidayat
al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid, Juz I. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
Al-Atsir, Izz al-Din. Usul
al-Ghabah fi Ma’rifat al-Sahabat, Juz. VI. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
Al-Asqalani, Syihab al-Din bin
Ahmad bin Ali bin Hajar. Fath al-Bariy bi Syarh Shahih al-Bukhari, Juz
2. Beirut: Dar al-Ma’rifat, 1990.
___________, Tahzib al-Tahzib, Juz IX. Beirut: Dar al-Kutub
al-Ilmiah, 1994.
Al-Bandary, Abd al-Gaffar
Sulaiman dan Sayyid Kurdi Hasan, Maushu’ah Rijal al-Kutub al-Tis’ah, Juz
3. Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1413 H/1993 M.
Bisri, Adib dan Munawwir AF, Kamus al-Bisri; Indonesia–Arab,
Arab–Indonesia. Cet. I; Surabaya: Pustaka Progressif, 1999.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail
bin Ibrahim bin al-Mughirah, Shahih Bukhari, Juz 3. Cet. I; Beirut: Dar
al-Kutub al-Ilmiah, 1992 M/1412 H.
CD Digital “Maushu’ah al-Hadis
al-Syarif”,
Al-Hajjaj, Abi al-Husni Muslim. Shahih
Muslim bi Syarh al-Nawawy, Juz III. Indonesia: Maktabah Dahlan, t.th.
Ibn Hanbal, Abu Abdullah Ahmad. Musnad
Ahamd ibn Hanbal, Juz VI. Beirut: Maktabah al-Islamy, 1978.
Husnan, Ahmad. Kajian Hadis
Metode Takhrij. Cet. I; Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1993.
Ismail, M. Syuhudi. Pengantar Ilmu
Hadis. Cet. II; Bandung: Angkasa, 1991.
____________, Hadis Ahkam II, Bagian I (Pernikahan). Ujung
Pandang: IAIN Alauddin Ujung Pandang, 1994.
al-Jauziyah, Ali ibn Muhammad. Usd
al-Ghabah fi Ma’rifat al-Sahabat, Juz III. Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub
al-Ilmiah, 1994.
al-Jaziri, Abd al-Rahman. Kitab
al-Fiqh ala Mazahib al-Arbaáh,
Jilid IV. Beirut: Dar Ihya al-Turas al-‘Arabiy, 1969.
al-Kahlany, Muhammad bin Ismail. Subul
al-Salam; Syarh Bulugh al-Maram min Jami’ Adillat al-Ahkam, Juz III.
Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, t.th.
Al-Mizziy, Jamal al-Din Abi
al-Hajjaj Yusuf. Tahzib al-Kamal fi Asma’ al-Rijal, Juz III. Beirut: Dar
al-Fikr, 1994.
Al-Naisabury, Muslim Ibn
al-Hajjaj al-Qusyairy. Shahih Muslim, Juz V. Cet. I; Beirut: Dar
al-Kutub al-Ilmiah, 1994.
Al-Qazwainy, Abu Abdillah
Muhammad bin Yazid. Sunan Ibn Majah, Juz I. Beirut: Dar al-Fikr, 1995.
Al-Razi, Aslam. Al-Jarh wa
al-Ta’dil, Juz I. Cet. I; Haidarabat: Majlis Dairah al-Ma’arif, 1371.
Sabiq, Al-Sayyid. Fiqh
al-Sunnah, Juz II. Cet. XI; Kairo: Dar al-Fath li al-I’lam al-Arabiy, 1994.
Shihab, M. Quraish. Tafsir
al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 2. Cet. II; Jakarta:
lentera Hati, 2000.
Al-Sijistany, Abu Daud Sulaiman bin
al-Asy’ats Ibn Syaddad al-Azady. Sunan Abu Dawud, Juz II. Beirut:
Dar al-Fikr, 1968.
Ibn Surah, Abu Isa Muhammad Ibn
Isa. Al-Jami’ al-Shahih Sunan al-Turmudzi, Juz III. Beirut: Dar al-Kutub
al-Ilmiah, t.th.
Al-Suyuthi, Jalal al-Din. Sunan al-Nasa’iy,
Juz V. Beirut: Dar al-kutub al-Ilmiah, t.th.
al-Syaukany, Muhammad. Nail al-Authar, Juz VI. Beirut: Dar
al-Jayl, t.th.
Wensinck, Arnold John. Concordance
et Indices de la Musulmane, diterjemahkan oleh Muhammad Fuad Abd al-Baqy
dengan judul Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Hadis al-Nabawi, Juz 1.
Leiden: EJ. Brill, 1943
Al-Zahraniy, Muhammad ibn Mathar.
Tadwin al-Sunnah al-Nabawiyah; Nasy’atuh wa Tathawwuruh min al-Qam al-Tasi’
al-Hijriy. Cet. I; Madinah al-Munawwarah: Maktabah al-Shadiq, 1412 H.
[1] QS. Al-Najm (53): 3-4.
[2] Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin
al-Mughirah al-Bukhari, Shahih Bukhari, Juz 3 (Cet. I; Beirut: Dar
al-Kutub al-Ilmiah, 1992 M/1412 H), Kitab Syahadat, No. Hadis 2647, h. 207.
[3] Arnold John Wensinck, Concordance et
Indices de la Musulmane, diterjemahkan oleh Muhammad Fuad Abd al-Baqy
dengan judul Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Hadis al-Nabawi, Juz
1 (Leiden: EJ. Brill, 1943), h. 403. Lihat pula, CD Digital “Maushu’ah
al-Hadis al-Syarif”, Penelusuran kosa kata pada bagian Mu’jam Alfadz
al-Hadis.
[4] Ibid., Juz 2, h. 265-7.
[5] Ibid., Juz 6, h. 234.
[6] Muhammad bin Ismail, loc. cit.
CD Digital, Hadis No. 2453.
[7] Ibid., kitab al-Nikah, 21, h.
243-244. CD Digital, Hadis No. 4712.
[8]Muslim Ibn al-Hajjaj al-Qusyairy
al-Naisabury, Shahih Muslim, Juz V (Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub
al-Ilmiah, 1994), h. 124. CD. Digital, hadis no. 2642.
[9] Ibid., h. 130. CD Digital no.
2627.
[10] Ibid., CD Digital no. 2631.
[11] Ibid., CD Digital no. 2633.
[12] Abu Isa Muhammad Ibn Isa Ibn Surah, Al-Jami’
al-Shahih Sunan al-Turmudzi, Juz III (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah,
t.th.), h. 455.
[13]Jalal al-Din al-Suyuthi, Sunan
al-Nasa’iy, Juz V (Beirut: Dar al-kutub al-Ilmiah, t.th.), h, 100.
[14]Abu Daud Sulaiman bin al-Asy’ats Ibn
Syaddad al-Azady Al-Sijistany, Sunan Abu Dawud, Juz II (Beirut:
Dar al-Fikr, 1968), h. 547-8.
[15]Abu Abdillah Muhammad bin Yazid
al-Qazwainy, Sunan Ibn Majah, Juz I (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), h. 610.
[16]Abu Abdullah Ahmad Ibn Hanbal, Musnad
Ahamd ibn Hanbal, Juz VI (Beirut: Maktabah al-Islamy, 1978), h. 31.
[17] Muhammad ibn Mathar al-Zahraniy, Tadwin
al-Sunnah al-Nabawiyah; Nasy’atuh wa Tathawwuruh min al-Qam al-Tasi’ al-Hijriy (Cet.
I; Madinah al-Munawwarah: Maktabah al-Shadiq, 1412 H), h. 112.
[18] Ahmad Husnan, Kajian Hadis Metode
Takhrij (Cet. I; Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1993), h. 20.
[19] Ibid.
[20] Lihat, Abd al-Gaffar Sulaiman
al-Bandary dan Sayyid Kurdi Hasan, Maushu’ah Rijal al-Kutub al-Tis’ah,
Juz 3 (Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1413 H/1993 M), h. 451. Lihat
pula, CD Digital Maushu’ah al-Hadis al-Syarif. Bandingkan, Syihab al-Din
Abu Fadl Ahmad ibn Ali ibn Hajar al-Asqalani, Tahzib al-Tahzib, Juz IX
(Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1994), h. 417. Bandingkan pula, Jamal al-Din
Abi al-Hajjaj Yusuf al-Mizziy, Tahzib al-Kamal fi Asma’ al-Rijal, Juz
III (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), No. 1262.
[21]Al-Bandary, Juz 4, op. cit., h.
65. al-Asqalani, Juz 4, Tahzib., h. 111. al-Mizzy, Juz I, op. cit.,
No. 512.
[22] Al-Bandary, Juz 1, op. cit., h.
140. al-Asqalani, Juz I, Tahzib., h. 352.
[23] Aslam al-Razi, Al-Jarh wa al-Ta’dil,
Juz I (Cet. I; Haidarabat: Majlis Dairah al-Ma’arif, 1371), h. 321.
[24] Ibid., Juz V, h. 271.
[25] Al-Bandary, Juz II, op. cit., h.
84. al-Asqalani, Juz IV, Tahzib., h. 160. al-Mizzy, Juz I, op. cit.,
No. 529.
[26] Syihab al-Din bin Ahmad bin Ali bin
Hajar al-Asqalani, Fath al-Bariy bi Syarh Shahih al-Bukhari, Juz 2
(Beirut: Dar al-Ma’rifat, 1990), h. 147.
[27] Aslam al-Razi, Juz VIII, op. cit., h.
397.
[28] Al-Bandary, Juz III, op. cit.,
h. 539. al-Asqalani, Juz X, Tahzib., h. 100-1,110. al-Mizzy, Juz III, op.
cit., No. 1320.
[29] Aslam al-Razi, loc. cit.
[30] Lihat, Abd al-Gaffar Sulaiman
al-Bandary dan Sayyid Kurdi Hasan, Maushu’ah Rijal al-Kutub al-Tis’ah,
Juz 4 (Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1413 H/1993 M), h. 336.
[31] Lihat, al-Asqalani, Tahzib., Juz
XII, h. 384.
[32] Izz al-Din ibn al-Atsir, Usd
al-Ghabah fi Ma’rifat al-Sahabat, Juz. VI (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h.
189-192.
[33] Al-Asqalani, Juz XII, op. cit., h.
385-6.
[34] Muhammadiyah Amin, Menembus Lailatul
Qadr; Perdebatan Interpretasi Hadis Tekstual dan Kontekstual (Cet. I;
Makassar: MELANIApress, 2004), h. 119-20.
[35] Al- Asqalani, op. cit., h. 386.
[36] Ali ibn Muhammad al-Jauziyah, Usd
al-Ghabah fi Ma’rifat al-Sahabat, Juz III (Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub
al-Ilmiah, 1994), h. 186-9.
[37] M. Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis (Cet. II; Bandung: Angkasa, 1991), h. 17.
[38] Abi al-Husni Muslim Ibn al-Hajjaj, Shahih
Muslim bi Syarh al-Nawawy, Juz III (Indonesia: Maktabah Dahlan, t.th.), h.
1073.
[39] Abu Muhammad Mahmud Ibn Ahmad al-Ainiy,
Umdat al-Qary Syarh Shahih al-Bukhari,
Jilid XI (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.), h. 206.
[40] Abd al-Rahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ala Mazahib al-Arbaáh, Jilid IV
(Beirut: Dar Ihya al-Turas al-‘Arabiy, 1969), h. 25.
[41] Ibid.
[42] Ibid.
[43] Adib Bisri dan Munawwir AF, Kamus al-Bisri; Indonesia-Arab,
Arab-Indonesia (Cet. I; Surabaya: Pustaka Progressif, 1999), h. 92.
[44] Al-Asqalany, Fath al-Bary, Juz X, op.
cit., h. 184.
[45] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz II, op.
cit., h. 101.
[46]Al-Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah,
Juz II (Cet. XI; Kairo: Dar al-Fath li al-I’lam al-Arabiy, 1994), h. 160-1
[47]Abu Abdullah Muhammad bin Yazid, Sunan
Ibn Majah, Juz I, op. cit., h. 287.
[48]Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad
bin Ahmad bin Rusyd al-Qurthubi al-Andalusi, Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat
al-Muqtashid, Juz I (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h. 27-8.
[49]M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah;
Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 2 (Cet. II; Jakarta: lentera
Hati, 2000), h. 374-5.
[50] Al-Sayyid Sabiq, op. cit., h.
161-2.
[52] Ibid., h. 158-9.
[57]M. Syuhudi Ismail, Hadis Ahkam II,
Bagian I (Pernikahan) (Ujung Pandang: IAIN Alauddin Ujung Pandang, 1994), h.
52-3.
[58] Lebih lanjut lihat, Muhammad bin Ismail
al-Kahlany, Subul al-Salam; Syarh Bulugh al-Maram min Jami’ Adillat al-Ahkam,
Juz III (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, t.th.), h. 213.
[59] Lebih lanjut lihat, Muhammad
al-Syaukany, Nail al-Authar, Juz VI (Beirut: Dar al-Jayl, t.th.), h.
351.
[60] Lihat, M. Quraish Shihab, op. cit.,
h. 375.
[61] Ibid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar